Memahami Dunia dan Godaannya

Sumber gambar : https://www.adianhusaini.id/ Sumber gambar : https://www.adianhusaini.id/

Dalam Islam, dunia dipandang sebagai tempat ujian dan persinggahan sementara bagi manusia dalam perjalanan menuju kehidupan abadi di akhirat. Dunia ini bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk meraih kebahagiaan sejati yang hakiki.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-An’am, Ayat 32 :

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?

Berbicara tentang duniawi, Ibnu Athailah dalam bukunya Al-Hikam:

إِنْ اَرَدْتَ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ عِزٌّ لاَ يَفْنَى، فَلاَ تَسْتَعِزَّنَ بِعِزٍّ يَفْنَى

Apabila engkau menginginkan kemuliaan yang tidak fana, janganlah sekali-kali engkau merasa mulia dengan kemuliaan yang fana.

Imam Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa jika engkau ingin memiliki kemuliaan yang tidak fana, dengan merasa tidak butuh pada seluruh sebab lantaran adanya Sang Penyebab (Allah SWT) seluruh sebab karena Dia kekal, kebergantunganmu padaNya adalah kemuliaan yang tidak fana, maka janganlah sekali-kali engkau merasa mulia dengan kemuliaan yang fana, dengan merasa cukup dengan sebab-sebab serta lalai terhadap Sang Penyebab (Allah SWT) sebab-sebab karena sebab-sebab fana, kebergantunganmu pada sebab-sebab adalah kemuliaan yang tidak kekal, bahkan akan hilang dengan hilangnya sebab-sebab. Jika engkau menjadi mulia dengan selainNya, seperti harta, jabatan, dan sebagainya, niscaya kemuliaannmu tidaklah kekal, karena apa yang menjadi sebab kemuliaanmu tidaklah kekal.

Dunia dengan segala nikmat dan ujiannya.

Kehidupan dunia penuh dengan ujian dan cobaan. Hal ini bertujuan untuk menguji keimanan dan kesabaran manusia. Dengan melalui berbagai cobaan, manusia diharapkan semakin dekat dengan Allah SWT. Islam juga mengingatkan bahwa dunia ini penuh dengan tipu daya. Kesenangan duniawi yang bersifat sementara dapat menyesatkan manusia dan mengalihkan perhatiannya dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Berbicara tentang nikmat duniawi, Ibnu Athailah dalam bukunya Al-Hikam:

مَنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ أَنْ يَرْزٌقَكَ مَا يَكْفِيْكَ وَيَمْنَعَكَ مَا يَطْغِيْكَ

Di antara kesempurnaan nikmatNya kepadamu adalah bahwa Dia memberimu rezeki yang mencukupimu dan Dia menghalangimu dari apa yang membuatmu melampaui batas.

Imam Ar-Randi menjelaskan bahwa adanya kecukupan rezeki serta tidak adanya kelebihan dan kekurangan rezeki adalah termasuk di antara nikmat Alah SWT yang sempurna dan paripurna untuk seorang hamba, karena dalam kecukupan rezekinya itu sang hamba memperoleh seluruh kemaslahatan agamawi dalam tidak adanya kelebihan yang melampaui kecukupan adalah jelas, sebab seandainya ia mendapat kelebihan rezeki, mungkin saja itu menyebabkannya melampaui batas. Merasa kaya berarti adanya kelebihan di atas kecukupan, dan itu adalah sebab bagi perbuatan melampuai batas, pangkal dari setiap maksiat kepada Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung.

Jangan tertipu dan terlena akan sinar dan manisnya dunia.

Ibnu Athailah dalam bukunya Al-Hikam:

إِنْ رَغَّبَتْكَ الْبِدَايَاتٌ زَهَّدَتْكَ النِّهَايَاتُ. إِنْ دَعَاكَ إِلَيْهَا ظَاهِرٌ نَهَاكَ عَنْهَا بَاطِنٌ

Jika permulaannya membuatmu tertarik, penghujungnya justru membuatmu tidak suka. Jika lahirnya memanggilmu, batinnya justru melarangmu.

Imam Asy-Syarnubi menjelaskan bahwa jika permulaan berbagai hal duniawi, seperti kekuasaan, membuatmu tertarik, wahai orang tertipu dengan keindahan lahirnya, penghujungnya justru membuatmu tidak suka dengan ketercepatan darinya walaupun dengan kematian dan batinnya pun justru melarangmu terhadapnya dengan keadaannya yang membuat orang lalai dari ketaaatan kepada Sang Maha Mengetahui batin segala sesuatu.

Jadi, berbagai hal duniawi menggembirakan pada lahirnya namun membahayakan pada batinnya. Manakal berbagai permulaan membuatmu tertarik dengan pemudahan hal yang kau ingingkan, berbagai penghujung justru membuatmu tidak suka dengan keterjerumusan dalam hal yang tidak kau inginkan. Oleh sebab itu, orang berakal adalah orang yang berzuhud terhadap dunia.

Wallahu a’lam bish-shawab

Beberapa tulisan dikutip dari buku : Al-Hikam Ibnu Athaillah karya Dr. Shalah Abduttawwab Sa’dawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *