Mungkin dari kita pernah mendengar ada beberapa da’i (penceramah) yang pernah berbicara “berbisnislah dengan Allah ﷻ karena itu adalah bisnis yang tidak akan merugi”. Saya sendiri kurang sepakat dengan kalimat tersebut dan saya tidak memaksakan anda harus ikut cara pandang saya.
Saya menemukan salah satu contoh ada seseorang yang memposting di media sosial profesional kita sebut saja “LinkedIn”, kita tahu bahwa LinkedIn merupakan platform para profesional untuk mencari sebuah pekerjaan dan lainnya. Seseorang ini bisa disebut dalam posisi jobseeker (mencari kerja), dalam postingan dia menceritakan bahwa dia dipanggil interview bahkan sampai dengan proses offering letter, namun yang saya “sayangkan” dipostingan tersebut seseorang tersebut menceritakan karena dengan ibadah yang dilakukanlah dia mendapatkan itu (interview sampai offering letter) dan dia menyebutkan salah satu ibadahnya misal : tahajud dan bla … bla … bla.
Singkat cerita, dipostingan selanjutnya dia menceritakan bahwa dia seperti di ghosting oleh tim Human Resource (HR) perusahaan yang sebelumnya memproses sampai dengan offering letter atau dengan kata lain dia tidak diterima diperusahaan tersebut.
Dalam postingan ini, saya ingin berpendapat bahwa kaidah utama dalam tindakan-tindakan Allah ﷻ adalah bersifar jaiz (boleh). Tidak ada tindakan-tindakan Allah ﷻ kategori dan statusnya adalah wajib dilakukan oleh Allah ﷻ. Karena itu, yang wajib melakukan sesuatu adalah hanya manusia bukan Allah ﷻ. Sebagai contoh ketika kita melakukan ibadah kepada Allah ﷻ, menurut keyakinan pemahaman akidah yang saya pahami Allah ﷻ tidak wajib mengganjar pahala kepada makhlukNya yang berbuat ketaatan.
Allah ﷻ bisa saja memasukkan hambanya yang taat ke dalam neraka dan memasukkan hambanya yang tidak taat ke dalam surgaNya. Tentu tidak melanggar kaidah apapun, Allah ﷻ Maha Bebas sebebas-bebasnya karena Dia Tuhan. Dan itu tidak bisa dikatakan dzholim, karena kita itu makhlukNya, terserah Allah ﷻ ingin memperlakukan makhlukNya seperti apa. Kita yang tadinya tidak ada lalu diadakan olehNya dan diberi nikmat olehNya, lalu mengatakan Allah ﷻ itu dzholim kalau tidak memasukkan hambaNya yang taat ke dalam surgaNya.
Apapun yang dilakukan oleh manusia di dunia tidak terlepas dari karunia Allah ﷻ, sungguh rasanya sangat malu ketika kita melakukan ibadah kepada Allah ﷻ hanya karena ingin Allah ﷻ mengabulkan keinginan kita, padahal kita melakukan ibadah pun tidak terlepas dari nikmat-nikmat Allah ﷻ seperti udara yang bisa kita hirup untuk bernafas, gerak tubuh, kesehatan dan banyak lainnya. Dengan kata lain, tidak ada satu pun nikmat Allah ﷻ yang tidak ada atau bahkan tidak menempel pada diri kita. Bahkan jika kita berpikir lebih ekstrim, misal kita sampai menghitung-hitung amal ibadah kita, sungguh kita bodoh karena kalau dibandingkan dengan ibadah yang kita lakukan dengan nikmat yang kita terima dari Allah ﷻ sungguh tidak sebanding, bahkan kita tidak akan mampu menghitung nikmat tersebut.
Saya mendengar salah satu Kyai/Ulama, beliau ini dikenal oleh orang banyak mempunyai keilmuan yang luas yaitu KH. Bahauddin Nursalim atau yang biasa dikenala dengan panggilan Gus Baha. Beliau berkata seperti ini: “Manusia sering mengeluh, karena mereka hanya mendasari dirinya sebagai hamba dan Tuhan adalah dzat yang selalu siap mengabulkan doanya. Allah ﷻ itu Maha Kuasa, Maha Dig Jaya. Bukan pelayan ataupun pembantumu yang memenuhi semua keinginanmu,” kata Gus Baha. Gus Baha merasa sedikit kecewa, dimana umat muslim terkadang mensifati Tuhan semesta alam hanya di Asma’ Maha pengabul doa. “Jangan kamu mensifati Allah hanya pengabul doa saja, emang kamu siapa?,” terang Gus Baha.
Dalam kitab Al Hikam, Ibn Atha’illah berkata juga dalam untaian kalimat hikmahnya:
متى اعطاك اشهدك بره، ومتى منعك اشهدك قهره، فهو في كل ذلك متعرف اليك ومقبل بوجود لطفه علي
“Ketika Dia memberimu, Dia telah menunjukkan kepadamu kebaikan-Nya (bahwa Dia adalah Dzat yang Sangat Baik). Ketika Dia tidak memberimu, Dia menunjukkan kepadamu kekuasaan-Nya (Bahwa Dia adalah Dzat yang tidak bisa diintervensi). Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri-Nya kepada-Mu dan mendatangimu lewat kelembutan-Nya (kasih sayang-Nya).”
Walaupun tindakan-tindakan Allah ﷻ tidak bersifat wajib, tapi ketahuilah bahwa Allah ﷻ mempunyai sifat-sifat yang agung salah satunya adalah Allah ﷻ memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Dengan sifat-sifat itulah semoga kita termasuk hamba-hamba yang diberi rahmatNya.
Jadi jangan pernah berbisnis dengan Allah ﷻ, kita hanya perlu ibadah dengan niat bersyukur karena Allah ﷻ telah menciptakan kita yang tadinya kita tidak ada dan diadakan olehNya dan semoga Allah ﷻ merahmati kita sebagai hambaNya.
